Kendala Rekonstruksi Rumah Korban Gempa

Pembangunan rumah korban gempa senantiasa perlihatkan progress tambah baik. Tempo hari (28/3) , banyaknya rumah yang telah tuntas sampai 10. 218 unit rumah. Banyaknya itu diraih dengan waktu delapan bulan mulai sejak gempa Agustus 2018. Tetapi demikian, kendala lain hadir. Ialah tersangkut kelangkaan tenaga tukang serta bahan seperti batu bata.

Telah langka, harga bata merah naik. Dari awalnya Rp 600 ribu untuk 1. 000 biji, jadi Rp 800 ribu untuk banyaknya yang sama. Hal semacam itu lantas benar-benar mempengaruhi proses pembangunan rumah korban gempa.

Kalau situasi itu tak henti berlangsung, dana perangsang buat korban gempa tidak dapat optimal untuk membuat.

”Harusnya rumah masyarakat yang tambah bagus jadi menyusut, ” kata Kepala Sektor Logistik serta Kedaruratan BPBD NTB Agung Pramuja, tempo hari.

Hukum ekonomi saat ini memang sedang main. Kenaikan harga batu bata itu diakibatkan berkat keinginan yang tinggi. Sesaat di lain bagian, produksi bata merah hanya terbatas. Ditambah lagi waktu ini hujan sering menempa. Menaikkan sulitnya pembuatan bata merah. Karena itu, batako saat ini diijinkan jadi bahan bangunan.

”Tidak problem (batako) yang penting strukturnya kuat, ” kata Agung.

Read More : ukuran batu bata

Di lain bagian, kelangkaan tenaga tukang jadi problem yang lebih susah. Banyaknya tenaga tukang dari Lombok hanya terbatas. Sesaat banyaknya rumah yang dibikin beberapa ratus ribu. Sebab itu, tenaga tukang di luar Lombok dapat dihadirkan supaya pembangunan dapat bertambah cepat. Ada banyak tukang dari wilayah lain seperti Sumbawa, Bima serta Dompu yang dapat dihadirkan ke Lombok.

”Kita perlu 30 beberapa ribu tenaga tukang. Itu saja masih kurang, ” tukasnya.

Jadi deskripsi, untuk lakukan satu unit rumah rusak tengah rata-rata diperlukan empat orang tukang supaya bertambah cepat. Jika rumah rusak enteng perlu dua tukang serta dua orang peladen. Apabila dikalikan dengan banyaknya rumah rusak pasti perlu beberapa ratus orang tukang.

Waktu ini, semasing desa di Lombok mempunyai tukang. Tapi, satu tukang waktu ini lakukan lebih dari satu rumah. Bahkan juga, dapat sampai empat rumah untuk satu orang tukang. Sampai begitu susah kerja cepat.

”Tukang di luar silahkan hadir yang penting tidaklah terlalu repot, ” tukasnya.

Kelangkaan bahan bangunan pernah juga diutarakan Presiden Joko Widodo kala bertandang ke NTB waktu lalu. Tetapi, spesial untuk persediaan semen serta baja ringan. Presiden kala itu memberi instruksi langsung terhadap Menteri BUMN untuk kirim beberapa bahan itu langsung ke Lombok. Sesaat bata merah, di produksi masyarakat lokal langsung.

Sesaat berkenaan progres rehab rekon pembangunan rumah, Kepala Pelaksana BPBD NTB H Muhammad Rum merincikan 10. 218 unit rumah telah jadi. Sekitar 2. 193 unit rumah rusak berat (RB) , rumah rusak tengah (RS) 1. 845 unit, serta rumah rusak enteng (RR) 6. 180 unit.

Sedang 38. 324 unit rumah masih juga dalam proses pembangunan. Terbagi dalam 16. 600 rumah rusak berat, 7. 253 rumah rusak tengah, serta 14. 471 unit rusak enteng.

Waktu ini, untuk mepercepat pembangunan, proses rehab rekon dibantu 3. 338 orang tenaga fasilitator. Mereka didambakan bisa kerja lewat cara optimal. Kehadiran fasilitator juga pula tentukan percepatan pembangunan rumah.

About the author: radit

Related Posts

Leave a Reply